-->

Kamis, 15 September 2016

ILMU HAKEKAT

| 07.51 |
ILMU HAKEKAT
Part 1
          Jika kita masih merasa ‘am maksudnya masih bodoh terhadap Allah, maka kita harus ikhtiah mencari ilmu hakekat yang bisa menjadikan sentosanya iman, kuatnya iman, yaitu iman tahqit (Iman Haqiqi). Yaitu iman yang manunggal dengan dzat (bersatu dengan dzat).
Firman Allah terhadap Nabi Adam AS : “Hai kekasihku Adam, kamu mengertilah kalau ilmu hakekat itu memahami badan halus yang duduk di dalam jasad kasar (jasad) yaitu berupa :
1.     Nafsu Aluamah.
2.     Nafsu Amarah.
3.     Nafsu Sufiah.
4.     Nafsu mutmainnah.
5.     Roh Jasmani.
6.     Roh Robbani.
7.     Roh Rohmani.
8.     Roh Idhofi.
Orang yang belajar (mengaji) ilmu hakekat itu wajib mengetahui 4 perkara :
1.     Sabar.
2.     Tawaqal.
3.     Ridlo.
4.     Ihklas.

Dari 4 perkara diatas dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.     Sabar.
a.  Menurut Ibnu ‘Atho’ : Jika tertimpa cobaan tetap berlaku baik dan berlapang dada.
b. Munurut Umar bin Usman : Akan selalu tetap bersama Allah dan menerima cobaan itu dengan lapang dada dan senang hati.
c. Munurut Ruwaim : Semua apa yang terjadi terhadap kita diterima dengan tanpa mengeluh.
2.     Tawaqal
a.   Menurut Abi yazid Al Bustami : Seandainya disebelah kanan dan kirimu ada hewan galak atau ular berbisa, engkau tidak akan berubah dari tempatmu.
b.  Menurut Sahal Bin Abdullah : Penyerahan diri seorang hamba dihadapan Allah, seperti orang yang meninggal dunia yang berada dihadapan orang yang memandikannya, iya tidak akan berontak sama sekali entah mau diapakan dirinya tadi, yakni dengan kata lain tetap berpegang teguh kepada Allah.
c.   Anas bin Malik berkata : seorang laki laki datang kepada Rosululloh dengan membawa unta lalu dia bertanya? ya Rosululloh apakah unta ini saya tinggalkan dan saya bertawaqal? Lalu Rosululloh menjawab “Ikatlah Untamu dan bertawaqallah”
d.  Menurut Abu Usman Al Hariri : Merasa cukup terhadap yang diberikan Allah kepadanya dengan tetap berpegang teguh kepada Allah.
e.  Menurut Sahal Bin Abdullah : Hati yang selalu hidup dan selalu bersama Allah dengan tanpa ketergantungan selain Allah.
f.   Menurut Ba’du Ulama’ : Seperti anak kecil yang tidak tau apa apa, iya tinggal dan hanya berada di susu ibunya. Begitu juga dengan orang yang bertawaqal  dia tidak akan mencari petunjuk kecuali hanya kepada Allah.



1.     Ridlo
a.   Menurut  Haras Mahasibi : Ketenangan hati dibawah tempat tempat berlakunya hukum.
b.   Menurut Abu Sulaiman : Tidak minta kepada Allah untuk mendapatkan surga, dan tidak minta pula kepada Allah untuk dihindarkan api neraka.
c.      Menurut Ruwaim : Menerima hukum dengan senang hati.
2.     Ihklas
Ihklas itu rahasia dari rahasiaku yang aku berikan atau aku titipkan kepada hati orang yang aku cintai diantara hamba hambaku. Menurut :
a.  Dzunnunul Misri : Tidak ada perbedaan antara dipuji dan dicela dan juga lupa memandang amalnya sendiri dan lupa menuntut pahala akhirat.
b.   Munurut Ustad Maghribi : Tidak ada bagian atas suatu hal bagi dirinya.
c.  Menurut Abu Usman Al Hariri : Melupakan penglihatan Mahkluk dengan memandang terus yang tidak ada hentinya terhadap keabadian pencipta (Allah).
d.  Menurut Ahli Sufi : Amal yang Cuma diperlihatkan kepada Allah dan tidak diperlihatkan kepada selain Allah.
e.   Menurut Al Mursi :  Amal yang disertai rasa senang lahir dan batin
f.   Menurut Ruwaim : Suatu perubahan yang tidak ingin dibalas meskipun itu berupa pahala dunia atau akhirat.

Dari 4 perkara diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang beribadah kepada Allah itu harus bertawakal dengan bersungguh sungguh, disertai dengan hati yang sabar, ridlo dan ihklas meskipun itu melalui ujian yang pait, getir, berat maupun ringan.
Back to Top